Time's MONEY !!!

Rabu, 28 Maret 2012

Tugas III

PENGANGGURAN



Pembahasan I


A. Penanggulangan Pengangguran di Indonesia


Masalah ketenagakerjaan di Indonesia sekarang ini sudah mencapai kondisi yang cukup memprihatinkan ditandai dengan jumlah penganggur dan setengah penganggur yang besar, pendapatan yang relatif rendah dan kurang merata. Sebaliknya pengangguran dan setengah pengangguran yang tinggi merupakan pemborosan pemborosan sumber daya dan potensi yang ada, menjadi beban keluarga dan masyarakat, sumber utama kemiskinan, dapat mendorong peningkatan keresahan sosial dan kriminal, dan dapat menghambat pembangunan dalam jangka panjang.
Kondisi pengangguran dan setengah pengangguran yang tinggi merupakan pemborosan sumber daya dan potensi yang ada, menjadi beban keluarga dan masyarakat, sumber utama kemiskinan, dapat mendorong peningkatan keresahan sosial dan kriminal; dan dapat menghambat pembangunan dalam jangka panjang.
Pembangunan bangsa Indonesia kedepan sangat tergantung pada kualitas sumber daya manusia Indonesia yang sehat fisik dan mental serta mempunyai ketrampilan dan keahlian kerja, sehingga mampu membangun keluarga yang bersangkutan untuk mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang tetap dan layak, sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup, kesehatan dan pendidikan anggota keluarganya. Dalam pembangunan Nasional, kebijakan ekonomi makro yang bertumpu pada sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter harus mengarah pada penciptaan dan perluasan kesempatan kerja. Untuk menumbuh kembangkan usaha mikro dan usaha kecil yang mandiri perlu keberpihakan kebijakan termasuk akses, pendamping, pendanaan usaha kecil dan tingkat suku bunga kecil yang mendukung.
Kebijakan Pemerintah Pusat dengan kebijakan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota harus merupakan satu kesatuan yang saling mendukung untuk penciptaan dan perluasan kesempatan kerja.

B. Gerakan Nasional Penanggulangan Pengangguran (GNPP)

Mengingat 70 persen penganggur didominasi oleh kaum muda, maka diperlukan penanganan khusus secara terpadu program aksi penciptaan dan perluasan kesempatan kerja khusus bagi kaum muda oleh semua pihak.
Berdasarkan kondisi diatas perlu dilakukan Gerakan Nasional Penanggulangan Pengangguran (GNPP) dengan mengerahkan semua unsur-unsur dan potensi di tingkat nasional dan daerah untuk menyusun kebijakan dan strategi serta melaksanakan program penanggulangan pengangguran. Salah satu tolok ukur kebijakan nasional dan regional haruslah keberhasilan dalam perluasan kesempatan kerja atau penurunan pengangguran dan setengah pengangguran.
Gerakan tersebut dicanangkan dalam satu Deklarasi GNPP yang diadakan di Jakarta 29 Juni 2004. Lima orang tokoh dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, perwakilan pengusaha, perwakilan perguruan tinggi, menandatangani deklarasi tersebut, merekaadalah Gubernur Riau H.M. Rusli Zainal; Walikota Pangkal Pinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung H. Zulkarnaen Karim; Palgunadi; T. Setyawan,ABAC; pengusaha; DR. J.P. Sitanggang, UPN Veteran Jakarta; Bambang Ismawan, Bina Swadaya, LSM; mereka adalah sebagian kecil dari para tokoh yang memandang masalah ketenagakerjaan di Indonesia harus segera ditanggulangi oleh segenap komponen bangsa.
Menurut para deklarator tersebut, bahwa GNPP ini dimaksudkan untuk membangun kepekaan dan kepedulian seluruh aparatur dari pusat ke daerah, serta masyarakat seluruhnya untuk berupaya mengatasi pengangguran.
Dalam deklarasi itu ditegaskan, bahwa untuk itu, sesuai dengan Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, sebaiknya segera dibentuk Badan Koordinasi Perluasan Kesempatan Kerja.
Kesadaran dan dukungan sebagaimana diwujudkan dalam kesepakatan GNPP tersebut, menunjukan suatu kepedulian dari segenap komponen bangsa terhadap masalah ketenagakerjaan, utamanya upaya penanggulangan pengangguran. Menyadari bahwa upaya penciptaan kesempatan kerja itu bukan semata fungsi dan tanggung jawab Depatemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, akan tetapi merupakan tanggung jawab kita semua, pihak pemerintah baik pusat maupun daerah, dunia usaha, maupun dunia pendidikan. Oleh karena itu, dalam penyusunan kebijakan dan program masing-masing pihak, baik pemerintah maupun swasta harus dikaitkan dengan penciptaan kesempatan kerja yang seluas-luasnya.
Konsepsi.
Sementara itu dalam Raker dengan Komisi VII DPR-RI 11 Pebruari 2004 yang lalu, Menakertrans Jacob Nuwa Wea dalam penjelasannya juga berkesempatan memaparkan konsepsi penanggulangan pengangguran di Indonesia, meliputi keadaan pengangguran dan setengah pengangguran; keadaan angkatan kerja; dan keadaan kesempatan kerja; serta sasaran yang akan dicapai. Dalam konteks ini kiranya paparan tersebut masih relevan untuk diinformasikan.
Dalam salah satu bagian paparannya Menteri menyebutkan, bahwa pembukaan UUD 1945 mengamanatkan: "... untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa ...". Selanjutnya secara lebih konkrit pada Pasal 27 ayat (2) menyatakan bahwa : " tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan " dan pada Pasal 28 D ayat (2) menyatakan bahwa:" Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja". Hal ini berarti, bahwa secara konstitusional, pemerintah berkewajiban untuk menyediakan pekerjaan dalam jumlah yang cukup, produktif dan remuneratif. Kedua Pasal UUD 1945 ini perlu menjadi perhatian bahwa upaya-upaya penanganan pengangguran yang telah dilaksanakan selama ini masih belum memenuhi harapan, serta mendorong segera dapat dirumuskan Konsepsi Penanggulangan Pengangguran.
Selanjutnya Menakertrans menyatakan, Depnakertrans dengan mengikut sertakan pihak-pihak terkait sedang menyusun konsepsi penanggulangan pengangguran. Dalam proses penyusunan ini telah dilakukan beberapa kali pembahasan di lingkungan Depnakertrans sendiri, dengan Tripartit secara terbatas (Apindo dan beberapa Serikat Pekerja); dan juga pembahasan dengan beberapa Departemen dan Bappenas. " Memperhatikan kompleksnya permasalahan pengangguran, disadari bahwa penyusunan konsepsi tersebut masih perlu didiskusikan dan dikembangkan lebih lanjut dengan berbagai pihak yang lebih luas, antara lain sangat dibutuhkan masukan dan dukungan sepenuhnya dari Anggotra DPR-RI yang terhormat khususnya Komisi VII; masih memerlukan waktu dan dukungan biaya sehingga pada akhirnya dapat dirumuskan suatu Konsepsi Penanggulangan Pengangguran di Indonesia yang didukung oleh seluruh komponen masyarakat", tutur Menteri Jacob Nuwa Wea.


C. Solusi Masalah Pengangguran di Indonesia

Sekitar 10 juta penganggur terbuka (open unemployed) dan 31 juta setengah penggangur (underemployed) bukanlah persoalan kecil yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia dewasa ini dan ke depan. Sepuluh juta penganggur terbuka berarti sekitar separo dari penduduk Malaysia.
Penganggur itu berpotensi menimbulkan kerawanan berbagai kriminal dan gejolak sosial, politik dan kemiskinan. Selain itu, pengangguran juga merupakan pemborosan yang luar biasa. Setiap orang harus mengkonsumsi beras, gula, minyak, pakaian, energi listrik, sepatu, jasa dan sebagainya setiap hari, tapi mereka tidak mempunyai penghasilan. Bisa kita bayangkan berapa ton beras dan kebutuhan lainnya harus disubsidi setiap harinya.
Bekerja berarti memiliki produksi. Seberapa pun produksi yang dihasilkan tetap lebih baik dibandingkan jika tidak memiliki produksi sama sekali. Karena itu, apa pun alasan dan bagaimanapun kondisi Indonesia saat ini masalah pengangguran harus dapat diatasi dengan berbagai upaya. Sering berbagai pihak menyatakan persoalan pengangguran itu adalah persoalan muara. Berbicara mengenai pengangguran banyak aspek dan teori disiplin ilmu terkait. Yang jelas pengangguran hanya dapat ditanggulangi secara konsepsional, komprehensif, integral baik terhadap persoalan hulu maupun muara. Sebagai solusi pengangguran, berbagai strategi dan kebijakan dapat ditempuh sebagai berikut.
Setiap penganggur diupayakan memiliki pekerjaan yang banyak bagi kemanusiaan artinya produktif dan remuneratif sesuai Pasal 27 Ayat 2 UUD 1945 dengan partisipasi semua masyarakat Indonesia. Lebih tegas lagi jadikan penanggulangan pengangguran menjadi komitmen nasional.
Untuk itu diperlukan dua kebijakan, yaitu kebijakan makro dan mikro (khusus). Kebijakan makro (umum) yang berkaitan erat dengan pengangguran, antara lain kebijakan makro ekonomi seperti moneter berupa uang beredar, tingkat suku bunga, inflasi dan nilai tukar yang melibatkan Bank Indonesia (Bank Sentral), fiskal (Departemen Keuangan) dan lainnya. Dalam keputusan rapat-rapat kebinet, hal-hal itu harus jelas keputusannya dengan fokus pada penanggulangan pengangguran. Jadi setiap lembaga pemerintah yang terkait dengan pengangguran harus ada komitmen dalam keputusannya dan pelaksanaannya.



Nama Kelompok :
  1. Nurul Sarah  (25211221)
  2. Novi Budi Kusuma Ningrum (25211409)
  3. Nurty Sari Ward Neza (25211379)
  4. Resty Puji Riati (26211010)
  5. Eva Beatrice Sitanggang (28211793) 


 

Jumat, 02 Maret 2012

Story about " 1EB13 dan Ibu Eva Karla "

Nada dering hape nokia gua berbunyi dari sudut kasur gua, gua raih tuh hape tersebut dan langsung gua lihat ternyata Panggilan dari Mr.edward ( my big bos) dan dengan tidak menunggu lama lagi , gua angkat dan dengan sebutan Ass pa.

Berbincang-bincang dengan papa , adik gua zidan dan ibu gua melalui telfon genggam ,sangatlah senang dan sedikit mengurangi kerinduan gua terhadap mereka , maklum lah gua anak rantauan dan jauh dari kedua orang tua gua dikarenakan gua menuntut ilmu di jakarta tepatnya di Universitas Gunadarma-Depok .

Disini gua nge-kos , kosan gua terletak tidak jauh dari kampus , alhamdulillah gua mempunyai ibu dan bapak kosan yang baik ,jadi gua merasa nyaman nge-kos disini,

Di semester dua ini , gua mendapat jadwal kebanyakan dikampus D (Depok-Margonda).Hanya dengan satu kali naik angkot gua sudah sampai dikampus.Selalu dan selalu gua nikmati perjalanan gua menuju kekampus baik suka dan duka.Di semester dua ini juga , gua lebih semangat lagi belajar , karena di semester satu nilai gua amat sangatlah jauh dari angka maksimal.

Kalau sudah tiba dikampus itu , bawaaanya senang dan pingin ketawa , yaiyalah kan bisa ketemu senior-senior yang cakep-cakep hihi.Tapi,yang selalu bisa bikin ketawa gua tidak berhenti adalah saat gua masuki ruangan kelas yang heboh asik dan kompak yaitu  kelas 1EB13 , yang dimana itu adalah kelas gua,

Anaknya banyak yang bening-bening mulai dari sofi , rere , sarah , novi , ika pearce , eva, dwi, nengpopi, tya, dewi.Bukan yang bening aja yg cakep juga ada seperti om tege , adit , iki , jaka yg dicengin ama novi , yoga yg dicengin ama eva , boby yg dicengin ama " ehm " ,irwan yang dicengin ama fenti dan yang pinter juga ada ,mulai dari sebastian , annisa cibi-cibi, ninis imut , mistin ,ira sang penyabar , yohana , desi ,amel dan yang kocak juga ada ya tebak la klo ga ni orang ga bakalan rame ni kelas contohnya si gendut yudha , si dio tambun , apid si cyiiin ,aji cellybell bisa ngakak ga berhenti-henti.Yang sering gua jadiin lucu2an  juga ada ,tuh tuh si melda, tiara dan owi jkt48,  bimo messi , fahli , afis, ade fajar ,yang tukang gombal juga ada tuh si aki-aki faruq tiap hari ngegombalin anak kelas mulu , tapi gua heran kenapa gombalan dia belum nyangkut dihati para awewek kelas.
yang sering gua pancing emosinya juga ada tuh si diah ,eva feb , sherly, gita ,ocyn uyul , virni tapi klo virni mah ketawa mulu ,heran gua.
pasangan yang terpopuler juga ada,ala 1EB13 :
  1. adit ama sofi (udah END)
  2. iki ama rere  (udah BERAKHIR)
  3. Fenti ama Irwan (udah ga tau kemana)
  4. Duo Dika (alhamdulillah anteng2 aja)
  5. Owi dan Nengpopi (nah pasangan yang terhot sepanjang semester dua kayanya )


Intinya gua senang udah nemu temen kelas kaya mereka , gua ngomong kaya gini karna mungkin pas semester 3 entar, gua belumtau  bakalan dapat temen kaya mereka apa enggak , dan gua berharap kita tetep kompak dan ga sombong satu sama lain.
Satu lagi , wali kelas gua yang paling gokil , asik , care ama anak-anak 1eb13 ,dan top banget dah ,yaitu Ibu.Eva Karla (dosen manajemen merangkap wali kelas kami) Big thanks buat ibu bu , kami semua sayang sama ibu , yang ga bakalan gua lupain ni kelas , kelas pertama dimana gua nginjak bangku kuliah .



1EB13 dan Ibu.Eva Karla